Selamat Datang Kawan di Blog WISATA STEVENLY Ayo kita berwisata bersama menikmati Keindahan Alam ciptaan Tuhan, menikmati kuliner yang enak-enak dan menjaga budaya kita Karena hidup ini Indah dan setiap tempat adalah objek wisata. Blog ini menampilkan semua objek wisata yang dikunjungi dan dapat diceritakan

Pusat kerajinan Perak Bali

 
Citra yang paling menonjol tentang desa Celuk adalah sebuah desa obyek wisata kerajinan emas perak. Desa yang terletak di Kecamatan Sukawati, dengan lokasi desa yang sangat strategis sekitar 10 km ke arah timur laut dari Denpasar, desa Celuk berada dalam jaringan desa-desa pengerajin yaitu desa Batubulan, desa Batuan, desa Mas.
Hasil kerajinan emas dan perak yanag dihasilkan di desa Celuk memiliki kualitas yang bermutu tinggi serta mampu memproduksi dalam kuantitas yang besar. Hampir semua keluarga dan penduduk desa Celuk terampil dan seni dalam mengembangkan kreasi desain dan variasi terkait dengan kerajinan emas dan perak dimana hasil produksinya telah memasuki pasar lokal, nasional dan international. Beragam jenis kreasi dan variasi perhiasan, baik sebagai cendramata maupun komoditi ekspor diproduksi di desa ini seperti cincin, gelang, kalung, anting-anting, giwang, bross dan berbagai jenis perhiasan lainnya.

Sebagai desa obyek wisata, Celuk dapat dikunjungi setiap hari untuk melihat dari dekat para seniman yang sedang berkreasi membuat perhiasan emas dan perak yang bermutu tinggi. Di sini kita juga bisa membeli langsung perhiasan-perhiasan di etalase yang dipajang langsung di workshop para seniman.


Memasuki wilayah desa Celuk, kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar ke arah Kintamani dari Denpasar, di kanan kiri jalan banyak berjejer art shop. Hampir seluruhnya memajang dan menjual kerajinan perak.
Kerajinan perak itu dipajang di rak-rak kaca tembus pandang. Di beberapa art shop, rak kaca itu sengaja dipamerkan sehingga, meskipun hanya lewat, turis dapat melihat barang-barang kerajinan dari perak tersebut. Maka, tidak sedikit turis yang kemudian singgah. Hanya melihat-lihat atau bahkan membeli banyak kerajinan perak itu.
Perhiasan itu antara lain anting, cincin, gelang, kalung, liontin, dan bros. Peralatan makan beberapa diantaranya adalah sendok, garpu, piring, bokor (yang kadang-kadang dipakai untuk tempat banten ketika sembahyang), cangkir, gelas, dan semacamnya.
Kalau Anda tertarik, tidak usah canggung untuk masuk dan melihat-lihat barang. Sebab dengan senang hati, penjaga art shop akan mempersilakan kita masuk dan melihat-lihat kerajinan yang mereka pajang. Penjaga art shop itu biasanya berpakaian adat ringan, namun ada juga yang berpakaian baju masing-masing art shop.  Rak-rak itu dipajang membentuk huruf U mengikuti bentuk ruangan. Pajangannya berlapis-lapis. Maksudnya, dari yang paling luar kemudian ada rak lagi di bagian lebih dalam. Antara lapis satu dengan lapis lain ada jarak sekitar 0,5 meter yang memungkinkan pengunjung untuk bergerak leluasa.
Selain itu juga ada rak yang letaknya persis dekat dinding. Umumnya rak yang menempel ini untuk kerajinan yang berfungsi sebagai pajangan misalnya kipas dan keris itu tadi. Di antara rak-rak yang dekat dinding ruangan ini juga ada beberapa lemari untuk tempat kerajinan seperti cincin dan liontin. Setiap rak menggunakan kaca bening sebagai dinding. Sehingga pengunjung yang datang bisa melihat kerajinan itu dari sisi depan, belakang, maupun kanan kiri. Atau kalau kita ingin melihat lebih detail, karyawan yang menemani akan mengambilnya untuk kita. Kita bisa bertanya kalau ada hal yang kurang jelas. Di setiap kerajinan itu selalu terdapat harga yang ditulis di kertas yang menempel pada benda tersebut. Biasanya harga dalam dolar. Tapi untuk turis lokal, harganya tentu saja dalam rupiah.

Barang-barang kerajinan disusun berdasarkan kategori apakah itu perhiasan, perlengkapan makan, atau pajangan. Di dalam rak perhiasan, cincin akan dipajang bersama atau berdampingan dengan anting, bros, gelang, liontin, cemiti, rantai, dan semacamnya. Gelas akan dipajang dekat dengan teko, piring, tatanan meja, sendok, dan garpu. Sedangkan kipas, miniatur sepda motor, rumah gadang, kunci raksasa, becak, dan pajangan lain akan bersebelahan.
Kalau selesai melihat-lihat rasanya kurang afdhol kalau kita tidak beli kerajinan tersebut sekalian. Harga kerajinan itu bergantung jenisnya. Benda paling murah adalah liontin seharga sekitar Rp 35.000. Sedangkan paling mahal bisa sekitar Rp 12 juta yaitu miniatur kapal layar. Sehari-hari, kerajinan paling laris adalah perhiasan yang rata-rata harganya tidak sampai Rp 1 juta seperti liontin dan cincin. Harga tiap jenis perhiasan juga tergantung modelnya. Setiap perhiasan paling tidak punya 40 model. Jadi, meskipun sama-sama anting, bentuknya ada yang kecil ada juga yang memanjang atau melingkar. Harga setiap jenis berbeda.
Harga di kertas itu bisa berbeda kalau kita menawar. Melalui tawar menawar, biasanya pembeli bisa mendapatkan barang dengan harga separuh dari harga di kertas.
Menariknya, kalau Anda belanja kerajinan perak di tempat ini, Anda juga bisa melihat-lihat proses pembuatan kerajinan tersebut. Secara umum ada dua proses pembuatan yaitu secara tradisional dan secara modern. Tapi ada juga yang menggabungkan keduanya. Semua proses itu dilakukan sebagian maupun seluruhnya di toko yang menjual kerajinan.

Celuk mulai dikenal sebagai daerah produksi kerajinan perak sejak sekitar tahun 1976. Pada saat itu, booming pariwisata mulai terasa di Bali. Turis mancanegara pun berdatangan ke Bali. Salah satu tempat yang menjadi objek wisata tersebut, selain pantai Kuta adalah gunung Batur dan Kintamani.
Turis yang akan ke Kintamani dari Denpasar pasti akan lewat Celuk. Sebab ketika itu satu-satunya jalan yang menghubungkan Denpasar dan Kintamani memang harus lewat Celuk. Beberapa turis kemudian mampir ke Celuk untuk melihat kerajinan perak tersebut dan membelinya. Dari situlah informasi tentang Celuk sebagai produsen kerajinan perak mulai menyebar di kalangan pariwisata Bali. Seiring dengan kemajuan pariwisata Bali, Celuk pun semakin dikenal oleh turis yang berdatangan. Hingga akhirnya semakin banyak pula perajin perak di Celuk. Warga desa Celuk yang semula menjadikan pengrajin perak sebagai pekerjaan nomor dua alias sambilan pun kemudian beralih menjadikan pekerjaan utama. Awalnya pertanian adalah sumber pendapatan utama, namun saat ini hampir seluruh warga Celuk hidup dari kerajinan perak.
Umumnya, untuk barang kerajinan sederhana semacam cincin, di tiap art shop terdapat beberapa pengrajinnya.Selain ada pengrajin sendiri, mereka juga membeli dari pengrajin lokal.
Produk kerajinan perak buatan Celuk ini juga beredar di beberapa pusat penjualan souvenir di Bali seperti Pasar Sukawati, Gianyar yang berjarak sekitar 3 km dari Celuk atau Pasar Kumbasari, Denpasar. Kerajinan perak ini juga dijual di beberapa kawasan wisata di Bali seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Ubud, dan Kintamani. Selain harganya berbeda, secara psikologis tentu akan lebih puas kalau belanja kerajinan perak di tempat pembuatannya langsung, di Celuk. Tinggal Anda yang menentukan pilihan kerajinan perak macam apa yang Anda inginkan.

Namun, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan kalau berburu kerajinan perak di Celuk Sukawati. Pertama, sebaiknya Anda datang dengan guide atau paling tidak dengan teman yang bisa berbahasa Bali. Sebab dengan demikian, komunikasi antara kita dengan penjual akan lebih terbuka. Ini akan memudahkan pada proses penawaran. Kedua, tidak usah sungkan untuk melihat satu per satu barang yang dicari sebelum memutuskan membeli barang yang mana. Sebab, setiap produk minimal punya 40 model. Jadi, harus sabar mencari barang yang pas untuk dibeli. Ketiga, jangan terlalu cerewet apalagi kalau sampai tidak jadi membeli. Sebab, menurut beberapa penjual, mereka paling tidak suka dengan turis yang terlalu banyak omong tapi tidak jadi membeli barang. Keempat, kalau menawar, tawarlah harga hingga separuh dari harga yang diberikan oleh pedagang. Kalau beruntung, Anda bisa mendapatkan barang itu dengan separuh harga. Juga sebaiknya pakai rupiah saja bukan dolar biar lebih murah.
Source : Bali top holiday

0 komentar:

Posting Komentar